First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Iklan

Cara Mengatasi Sikap Defensif

Tepat saat saya akan menulis artikel ini saya menemukan judul yang tepat untuk artikel ini. Padahal saya dari kemarin udah bingung mau ngasih judul artikel ini apa.

Ini pelajaran psikologi. Saya akhir – akhir ini lagi suka belajar psikologi. Selain mengerti bahwa psikologi itu penting, ternyata saya juga telah belajar psikologi selama ini secara otodidak. Dengan cara menganalisa dan mengamati perilaku orang lain dan diri saya sendiri.

Dan pelajaran psikologi ini saya dapatkan saat saya meng-upload sebuah foto di group meme di Facebook.

Foto tentang seorang polwan sedang menghentikan seorang pengendara sepeda motor yang plat motornya terbalik. Foto itu tidak sengaja saya temukan di Twitter. Melihat itu lucu saya memikirkan dialog untuk foto itu.

Ini fotonya.

Ini narasi dan dialognya.

Tapi dialog yang di schreenshoot itu sudah saya edit sedikit. Kenapa?

Di narasinya saya tulis tokoh “Polwan”.

(Awalnya) tokoh di dialognya saya tulis “Polisi” sebelum saya ganti polwan.

Para komentator saat itu gak fokus sama lucunya, tapi malah fokus sama kesalahan saya. Saya juga sadar saat menulis itu. Tetapi saya pikir yang baca juga bakalan ngerti jadi pasti mereka bakalan fokus sama lucunya. Eh ternyata saya malah dapat kritikan bahkan ada orang yang kaya ngajak debat.

Akhirnya saya edit yang di dialog tadinya polisi jadi polwan.

Nah disinilah saya menemukan pelajarannya. Saya awalnya akan melawan mereka dengan menganggap apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang tidak perlu. Tapi karena saya tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan itu sebuah pemikiran tiba – tiba memasuki kepala saya.

Semua komentar kritikan dan ajakan debat itu saya balas dengan kalimat “oh iya saya lupa, makasih yah udah ngingetin”.

Memang begitukan seharusnya. Jika saya melawan mereka itu artinya saya bersikap difensif dan semua alasan yang saya katakan untuk melawan mereka adalah pembenaran. Bukan kebenaran.

Jika kita bawa ini dalam pembahasan yang lebih luas. Sebenarnya hal – hal seperti ini sangat sering terjadi dalam kehidupan kita sehari – hari. Entah itu diri kita atau orang lain.

Setiap orang tidak suka di kritik. Dan beberapa tidak suka di kasih tau, di kasih saran karena merasa sudah tau. Jika seseorang mengkritik atau memberitahu saran dan kesalahannya dia akan bersikap difensif. Inilah yang sering kali memunculkan pertengkaran.

Jadi jangan melawan, terima saja. Akui kesalahan anda.

Jika anda mengakui kesalahan anda saat anda melakukan kesalahan. orang akan sangat menghargai anda ketika anda benar.

Jika anda ada di posisi pemberi saran, yang harus anda ketahui adalah bahwa banyak orang selain anda yang juga memiliki saran yang bagus bahkan lebih dari anda. Tetapi yang tidak banyak orang ketahui adalah “Cara” anda memberi saran itu jauh lebih penting dari pada saran anda.

Cara yang baik akan membuat orang lain bersedia mendengarkan dan menghormati anda. Bahkan meskipun saran anda tak begitu istimewa. Karena fokus anda pada cara menunjukan bahwa Anda memiliki empati dan tidak ada niat untuk menggurui. Orang akan sangat terkesan dengan itu. Cara itu melingkupi beberapa hal seperti suara, tata bahasa, waktu, dan tempat.

Dan jika anda adalah orang yang memiliki kepribadian sikap difensif. Jangan pernah melawan orang lain. Cobalah terima dengan bahasa yang sopan. Dan berfokus pada “Cara” anda mengatakannya jauh lebih penting dari pada apa yang anda katakan.

Tetapi jika anda ingin membela diri, pastikanlah anda menerima terlebih dahulu apa yang di katakan orang lain. Kemudian belalah harga diri anda, dan sekali lagi fokus pada cara anda mengatakannya tidak kalah penting dari yang anda katakan.

Terimakasih

– Kuntoro –

Bolehkah Memuji Diri Sendiri?

Pernahkah kamu terlibat pembicaraan dengan seseorang dan lawan bicaraanmu itu banyak memuji dirinya sendiri?

Pasti akan sangat memuakan. Karena saya pernah mengalami itu bahkan saya pernah melakukannya. Sangat menggelikan membayangkan diri saya saat itu. Bersyukurlah saya sadar itu sesuatu yang buruk.

Setiap orang ingin di puji, setiap orang senang dengan pujian tulus. Karena pujian seperti sebuah anggapan.

Bahkan pujian layaknya suatu kebutuhan rohani manusia. Itu juga alasan beberapa orang senang memuji diri mereka sendiri.

Bukannya sombong tetapi saya sering memuji diri saya sendiri bahkan setiap hari. Saya mengatakan pada diri saya “Aku hebat, aku berharga, aku penting, aku bukan manusia biasa, aku makhluk luar biasa”.

Tetapi saya tidak melakukan itu di depan orang. Saya melakukannya di dalam hati, saya bahkan menyatakannya dengan suara tentu saat saya sedang sendirian.

Apakah itu sesuatu yang buruk?

Tentu tidak. Asalkan anda melakukannya tanpa ada orang lain yang mendengar atau mengetahuinya.

Memuji diri sendiri merupakan salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri kita, keberanian kita, juga yang terpenting adalah meningkatnya citra diri kita.

Ketika citra diri kita meningkat kita akan lebih efektif dalam mengambil keputusan.

Selain itu pujian terhadap diri sendiri juga adalah bentuk dari apresiasi diri. Kita perlu memberi apresiasi terhadap diri kita sendiri setiap kita melakukan sesuatu yang baik, benar, atau bahkan meskipun hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan.

Rasakanlah perbedaannya dalam beberapa hari setelah anda melakukannya.

– Kuntoro –

Jangan Sombong

“Jangan sombong. Jika kelebihanmu yang seharusnya kamu syukuri tapi malah kamu pergunakan untuk merendahkan orang lain, Tuhan akan menurunkan rasa hormat orang lain terhadapmu atau bahkan mengambil kembali kelebihan yang ada dalam dirimu”

“Alangkah lebih baik jika kita tetap berendah hati. Dan lebih membantu orang lain untuk menemukan dan meningkatkan kelebihan mereka. Orang lain akan sangat menghargai kita, menyukai kita, mengagumi kita jika kita tidak memamerkan apa yang menjadi kelebihan kita. Tetapi kita justru membantu orang lain meningkatkan kelebihan mereka. Orang lain tidak hanya akan menyukai diri mereka tetapi lebih dari itu mereka akan sangat menyukai dirimu.

Tidak perlu memberi tau orang lain tentang kelebihan kita, agar orang lain mengagumi kita. Tetapi buatlah orang lain tau bahwa kita mengagumi mereka, maka mereka akan sangat mengagumi kita”

– Kuntoro –

Sepakbola

Yesss Lebaran cuma tinggal beberapa hari lagi. Gak cuma itu, pembukaan piala dunia 2018 Rusia juga hampir bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri. Pasti sudah banyak orang yang tidak sabar menunggu. Termasuk saya.

Khusus untuk lebaran iya. Tapi untuk piala dunia!!!! Biasa aja.

Untuk sepakbola dalam negeri saya banyak tau dan rajin mengikuti beritanya. Tapi gak tau kenapa saya kurang suka sama sepakbola luar negeri. Bahkan kalo di tanya tim sepakbola apa yang favorit buat saya? Saya bakal jawab jawab ngasal. Saya tau nama – nama klub Eropa atau nama – nama pemain terkenal dunia tapi saya gak tertarik. Jadi tiap ada Piala Dunia atau liga Champions saya gak begitu suka buat ngikutin.

Pertama Kali Kenal Sepakbola

Saya ingat – ingat pertama kali tau sepakbola itu liat ada yang main bola didesa. Tapi kalo bener – bener main itu kelas 2 SD. Itu saya sama sekali gak tau bagaimana cara main bola. Saya jadi bek berdiri aja, diem cuma ngeliatin yang lain main.

Tendangan pertama saya itu bukan pake kaki bawah tapi pake dengkul. Jadi ada bola terbang ngarah ke saya. Bolanya jatuh pas saya ngangkat dengkul saya. Saya nendang sambil saya bilang “Dug”.

Dan ada satu temen baik saya sejak SD yang masih ingat sama kejadian.

Saya juga gak ngerti kenapa dia masih ingat kejadian gak penting itu.

Cita – Cita Menjadi Pesepakbola.

Ada sebuah cita – cita dari dalam diri saya untuk menjadi pemain sepakbola. Ketika menyadari bahwa ternyata saya memiliki skill yang cukup baik dalam bermain bola. Padahal ada fakta menarik dimana waktu saya masih usia 6 tahun saya pernah mengalami kecelakaan dan kaki kanan saya patah. Itu juga yang jadi alasan kenapa orang tua saya selalu ngelarang saya kalo main bola. Tapi itu sama sekali tidak membuat saya mengurungkan niat saya untuk jadi pemain bola.

Bahkan pas jaman – jamannya Timnas U-19 era Evan Dimas. Cita – cita saya makin besar. Karena saat itu usia mayoritas pemain Timnas U-19 seusia saya. Jadi saya berpikir jika mereka saja bisa pasti saya juga bisa. Tapi mungkin karena bukan nasibnya di situ. Sama saya juga kurang usaha.

Lapangan Bermain

Bukan lapangan bola, tapi jalanan pinggir kali. Gawangnya pake sendal. Terus kalo salah nendang bolanya bisa jatuh kesungai. Yang nendang suruh ngambil. Itu kalo gak salah pas jaman – jaman SMP tiap sore, full time’nya Azan Maghrib sekalian mandi di sungai.

Selain di sungai biasanya juga di sawah. Abis para petani panen padi lahannya di jadiin lapangan bola. Kalo lagi musim bola tiap sore rame banget di sawah. Hampir anak – anak muda di 2 desa pada ngumpul di sawah.

Dari anak SD, SMP, anak – anak remaja sama orang tua ada semua. Jadi lapangannya gak cuman satu tapi bisa lebih dari 5 lapangan.

Bahkan jaman saya masih SD itu pas puasa kalo ngabuburit ya main bola di sawah. Padahal lagi pada haus – haus tapi malah pada lari – larian.

Tapi itu dulu. Sekarang sawah gak musim hujan atau musim kemarau selalu di tanemin tanaman. Jadi gak bisa main buat bola. Anak – anak muda lebih suka ngabuburit sambil jalan – jalan naik motor. Ya iyalah lebih enak.

Dunia Persepakbolaan Indonesia

Mengenal sepakbola nasional itu pas jaman – jamannya ISL. Taunya cuma Persija doang sih saat itu karena emang tim itu yang saya tau. Itu sekitar tahun 2007 – 2008. Jamannya Persija ada trio Bambang, Aliyudin, Gregnokolo.

Tahun 2009 kalo gak salah baru kenal sama Timnas. 2010 piala AFF jamannya Markus Horison, terus timnas kalah di final sama Malaysia saya sampe susah tidur waktu itu.

2011 Sea games dan Timnas U23 saat itu bisa di bilang mayoritas di isi para pemain – pemain luar biasa. Macam Andik, Okto, Tibo, Ramdhani, kipernya Kurnia Meiga, Andrytani, pokoknya hebat – hebatlah. Sayangnya kembali lagi kalah sama Malaysia di Final.

Abis itu mulai rajin ngikutin perkembangan sepakbola nasional. Apalagi internet saat itu udah mudah di akses. Biasnaya update sepakbola lewat FB di HP qwerty. Terus FBnya 0 FB. Jadul banget tuh awal – awal kenal internet.

Kalo sekarang sih, teknologi udah sangat maju. Update informasi udah cepat dan mudah. Tapi sayangnya sepakbola nasional malah gak ikut maju – maju.

Meskipun minim prestasi tapi setiap Timnas main pasti bela – belain nonton. Apalagi taun ini ada banyak agenda timnas dari U16 sampe Senior. Semoga setiap dari mereka merah prestasi – prestasi yang membanggakan.

Amin.

– Kuntoro –

Kamu lebih besar dari apa yang kamu pikirkan

Pixabay
Sumber: Pixabay.com

Kamu hanya akan mencapai setinggi apa yang kamu yakini.

Jika kamu meyakini bahwa kemampuanmu hanya menjadi setinggi ketua RT maka kamu hanya akan menjadi setinggi ketua RT. Tetapi sesungguhnya kamu bisa menjadi lebih dari itu, kamu bisa menjadi seorang bupati bahkan lebih dari itu.

Keyakinan kita akan membawa kita ketingkat tertinggi dari potensi kita. Tetapi keyakinan kita juga bisa menghambat kita.

Maka perhatikanlah keyakinan yang kita miliki, apakah itu meningkatkan atau justru menghambat kita.

– Kuntoro –

Kata – Kata Bisa Menjadi Nyata

Ini bukan sekedar omong kosong tetapi memang seperti itu kebenarannya. Yang kita katakan pada orang lain, yang orang lain katakan pada kita, ataupun yang kita katakan pada diri kita sendiri bisa menjadi nyata.

Ada satu syarat kata – kata bisa menjadi nyata. Yaitu, jika kita “mempercayainya”.

Seseorang mengatakan hal buruk tentangmu, mungkin itu sedikit melukaimu tetapi itu tidak akan merubah apapun dari dirimu kecuali kamu mempercayainya.

Yang di katakannya memang bukan sebuah kebenaran tetapi jika kita mempercayainya, lama – lama itu akan menjadi kenyataan. Awalnya mungkin hanya sekedar persepsi tetapi lama – kelamaan akan menjadi realitas kehidupan kita.

Jika seseorang mengatakan hal buruk pada/tentang saya, itu memang melukai saya. Tetapi saya akan lebih mendengarkan suara – suara positif dalam diri saya ketimbang suara dari luar diri saya, dan lebih mempercayai kata – kata positif dari dalam diri saya di banding penilaian buruk orang lain tentang saya.

Perkataan atau penilaian buruk orang lain pada kita, kita abaikan. Dan perkataan atau penilaian baik dari orang lain pada kita, terima itu. Jika orang lain saja mempercayai hal baik dari diri kita mengapa kita tidak.

Hal lain yang sering menjadi masalah adalah, banyak diantara kita yang justru sering mengatakan hal – hal buruk pada/tentang diri kita sendiri.

Seperti sering menghujat, memaki, mengutuk diri sendiri.

Merendahkan, meremehkan, meragukan kemampuan diri sendiri.

“Akukan bodoh mana mungkin aku bisa, Aku cuma lulusan sekolah yang rendah, aku terlahir dari keluarga miskin, aku pasti tidak akan sukses”

Atau juga kita sering mengingatkan diri kita tentang kesalahan – kesalahan yang telah di lakukannya.

Itu semua menghambat kita mencapai kemungkinan – kemungkinan yang lebih tinggi yang bisa kita capai. Itu menghambat kita mengeluarkan potensi – potensi terbaik kita, yang telah Tuhan anugrahkan pada kita.

Sesuatu yang logis jika seseorang berbicara pada dirinya sendiri. Namun menjadi sesuatu hal yang negatif jika yang kita katakan pada diri kita sendiri adalah hal – hal yang buruk.

Fakta bahwa kata – kata bisa menjadi nyata adalah sebuah anugerah, mengapa tidak kita syukuri saja dengan mempergunakannya dengan baik.

Dengan mengatakan hal – hal positif pada orang lain untuk meningkatkan kualitas hidup dan kepercayaan dirinya.

Dengan mengatakan hal – hal baik dari diri orang lain untuk membesarkan hatinya.

Atau juga melakukan hal seperti itu pada diri kita sendiri.

Dan berhati – hatilah dengan ucapan – ucapan negatif, karena itu bisa merusak orang lain bahkan diri kita sendiri.

– Kuntoro –